Riset & Inovasi

Transisi Energi Jadi Peluang Emas Riset di Perguruan Tinggi

Kuliah Ahli Riset dan Inovasi ITPLN mendorong mahasiswa dan dosen menghasilkan riset terapan yang berkembang menjadi prototipe, produk siap guna, hingga startup di sektor energi.

E-Techno. Tantangan peralihan energi menuju kemandirian energi nasional membuka ruang inovasi yang luas bagi kalangan akademisi di perguruan tinggi. Momentum peralihan tersebut menjadi peluang bagi Institut Teknologi PLN (ITPLN) untuk meningkatkan dan mengembangkan riset dan inovasi di sektor energi. Dalam kaitan itu, perguruan tinggi yang fokus dalam bidang energi dan ketenagalistrikan ini, menyelenggarakan Kuliah Ahli Riset dan Inovasi bertajuk “Penguatan Budaya Energi Plus untuk Meningkatkan Kualitas Tridharma dan Kontribusi ITPLN bagi PLN Group” di Ruang Pembangkit ITPLN, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Kegiatan tersebut mendorong mahasiswa dan dosen untuk menghasilkan riset terapan yang tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu berkembang menjadi prototipe, produk siap guna, hingga perusahaan rintisan (startup). Perubahan paradigma riset kampus ini didasari oleh kebutuhan mendesak industri ketenagalistrikan dalam menghadapi transisi dari energi fosil menuju energi nonfosil.

Suasana Kuliah Ahli Riset dan Inovasi di Ruang Pembangkit ITPLN, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Rektor ITPLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K., M.T., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., saat membuka acara tersebut menegaskan bahwa penelitian perguruan tinggi harus berangkat dari persoalan nyata di lapangan. Menurutnya, pergeseran menuju energi bersih bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga menyangkut kesiapan sumber daya manusia (SDM), budaya inovasi, dan penerimaan masyarakat. Jika pada masa lalu fokus pembelajaran bertumpu pada efisiensi pembakaran batu bara, kini mahasiswa ditantang menemukan solusi untuk beralih ke energi bersih secara adil dan berkelanjutan.

Pembicara menyampaikan paparan dalam Kuliah Ahli Riset dan Inovasi ITPLN.

Mengambil Peran Aktif

Forum yang dimoderatori oleh Dr. Andi Makkulau, S.T., M.Ikom., M.T. ini menghadirkan dua narasumber kunci, yakni General Manager PT PLN (Persero) Puslitbang, Mochamad Soleh, S.T., M.T., IPM., yang memaparkan kebutuhan riset operasional ketenagalistrikan dan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) sekaligus Guru Besar Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., yang menguraikan arah Kebijakan Energi Nasional (KEN). Kegiatan ini diharapkan bisa menjembatani gagasan mahasiswa dengan kebutuhan industri dan regulasi negara.

Narasumber memaparkan materi di hadapan peserta Kuliah Ahli Riset dan Inovasi ITPLN.

Soleh menjelaskan bagaimana mahasiswa dapat mengambil peran aktif melalui rasa ingin tahu, analisis data dan eksplorasi solusi pada tugas akhir maupun penelitian kampus. Riset di lingkungan PLN saat ini terintegrasi dari hulu ke hilir untuk mendukung efisiensi operasional, pelaksanaan RUPTL 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas 69,5 GW (dengan porsi 76% dari Energi Baru Terbarukan dan penyimpanan energi), hingga program percepatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt-peak (GWp). Penelitian harus melewati tahapan pemetaan masalah operasi, pembuatan desain dan simulasi, pengujian laboratorium, hingga evaluasi keandalan dan keekonomian agar riset mahasiswa dapat diadopsi oleh industri.

Salah satu narasumber menyampaikan materi dalam forum Kuliah Ahli Riset dan Inovasi ITPLN.

Membedah Studi Kasus

Forum ini tidak hanya membahas kerangka metodologi melainkan juga membedah sejumlah studi kasus teknologi mutakhir sebagai referensi konkret bagi riset mahasiswa. Salah satu contoh penerapan nyata adalah pengembangan Technopark dan Green Hydrogen Hub di Pulau Renggit, Belitung. Di pulau yang dihuni sekitar 44 kepala keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan tersebut, sistem kelistrikan mengintegrasikan PLTS berkapasitas 79,38 kWp, baterai 200 kWh, dan fuel cell hidrogen 5 kW.

Pemaparan studi kasus teknologi ketenagalistrikan pada Kuliah Ahli Riset dan Inovasi ITPLN.

Secara teknis, pasokan listrik dari panel surya dan baterai digunakan dalam proses elektrolisis berbasis Anion Exchange Membrane (AEM) serta Proton Exchange Membrane (PEM) untuk memecah air menjadi gas hidrogen. Hidrogen tersebut kemudian disimpan dalam tangki bertekanan serta metal hidrida untuk diubah kembali menjadi energi listrik saat dibutuhkan.

Selain ekosistem hidrogen, dipaparkan pula peluang riset digitalisasi jaringan seperti Virtual Power Plant (VPP) dan Local Control Unit (LCU) untuk mengendalikan pembangkit tersebar, integrasi smart meter lintas produsen melalui Advanced Metering Infrastructure (AMI), hingga konversi generator PLTD yang dipensiunkan menjadi synchronous condenser guna menjaga kestabilan jaringan listrik.

Kebijakan Pemerintah

Sementara itu, Anggota DEN Prof. Johni Numberi memaparkan tentang kebijakan pemerintah yang merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN). Johni melihat dari sudut pandang kebijakan makro. Dalam hal ini, Indonesia telah menargetkan puncak emisi pada tahun 2035 dan Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 dengan porsi bauran EBT mencapai 70% hingga 72%.

Para narasumber dan peserta Kuliah Ahli Riset dan Inovasi ITPLN berfoto bersama.

Target besar ini mencakup penguatan rantai pasok industri PLTS dalam negeri dari pengolahan silika hingga modul surya, implementasi bahan bakar nabati B50 dan bioetanol, percepatan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), pemanfaatan energi arus laut untuk mendukung ekonomi biru (blue economy) kawasan pesisir, hingga rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama pada tahun 2032 sebagai penyeimbang beban dasar (base load). Seluruh peta jalan tersebut membutuhkan kesiapan SDM melalui pengembangan kurikulum, sertifikasi kompetensi, serta riset kolaboratif lintas disiplin.

Riset PLN Puslitbang

Di sisi lain, implementasi riset PLN Puslitbang telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang terbukti mampu meningkatkan kualitas layanan masyarakat dan efisiensi operasional. Di Pulau Renggit misalnya, penerapan sistem energi hibrida berhasil meningkatkan durasi layanan listrik warga dari semula 12 jam menjadi 24 jam penuh per hari, sekaligus mendukung fasilitas penyimpanan ikan nelayan dan pemanfaatan lahan agrivoltaik.

Penyerahan cenderamata dalam rangkaian Kuliah Ahli Riset dan Inovasi ITPLN.

Dalam lini pemeliharaan dan keandalan pembangkit, lahir pula produk inovasi teruji seperti alat kalibrasi otomatis AVATOR yang memangkas waktu kalibrasi steam turbine dari 16,5 jam menjadi 3,67 jam, alat STONER yang mempercepat pemasangan runner turbin dari 16 jam menjadi 4 jam, serta perangkat SuperSUN dan sistem proteksi ERFRES C-20. Mahasiswa ITPLN diharapkan dapat membangun kepekaan terhadap persoalan teknis di lapangan, keberanian menguji hipotesis melalui prototipe di laboratorium serta mampu menyempurnakan solusi berdasarkan bukti data.

PLN Puslitbang dan DEN diharapkan ke depan dapat membuka ruang kolaborasi serta skema ekosistem kreasi bersama (co-creation ecosystem) bagi sivitas akademika ITPLN untuk menyelaraskan agenda riset kampus dengan kebutuhan industri maupun pemerintah. Melalui sinergi antara ketajaman analisis mahasiswa, bimbingan metodologi dosen, serta fasilitas pengujian dan pematangan produk dari industri, karya inovatif dari bangku kuliah memiliki jalur hilirisasi yang jelas untuk distandardisasi dan direplikasi secara luas.

Peserta Kuliah Ahli Riset dan Inovasi ITPLN di Ruang Pembangkit ITPLN, Jakarta.

Penyelenggaraan Kuliah Ahli Riset dan Inovasi ini menegaskan komitmen ITPLN dalam menguatkan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Dengan mengarahkan riset mahasiswa pada pemecahan masalah ketenagalistrikan dan swasembada energi, ITPLN terus menyiapkan talenta unggul yang siap menjadi motor penggerak transformasi energi nasional. (red/Mangara/tim komunitas e-techno).

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

Rekomendasi Untukmu

Forum & Bisnis

Lewat adaptasi teknologi, PLN tak hanya mengoptimalkan proses bisnis tetapi juga membuat tantangan menjadi peluang

Kerjasama

Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan (YPK) PLN selaku badan pelaksana Institut Teknologi PLN mengadakan acara Forum Konsolidasi Oktober 2022 lalu bertempat di kampus IT PLN

Opini

fly ash dan bottom ash diharapkan terus mengalami perkembangan sehingga dapat digunakan pada berbagai bidang diluar bidang konstruksi atau infrastruktur

Forum & Bisnis

Renewables used to just be the more sustainable—if more expensive—option. By 2023, they will make good business sense.

Graha YPK-PLN Jl. Lebak Bulus Tengah No. 5, Cilandak Jakarta Selatan Copyright © 2023 E-Techno.

Exit mobile version